Nasehat Mursyid

Napak tilas para Nabi dan Rasul bersama Wali Alloh
Orang melakukan perjalanan suci amalnya kadang diterima kadang tidak. Inilah konsep Haji Mabrur atau tidak. Begitupun untuk Umroh ada yg diterima atau tidak tergantung hati masing masing.

Tetapi bagi orang yg niatnya mengikuti Gurunya dan Gurunya adalah seorang Wali Alloh bukankah amalnya pasti akan diterima. Malah akan ditambah lagi karena setia mengikuti KhalifahNya didunia.

Bila Anda ada doa keinginan, kita percaya di Tanah suci akan lebih mungkin dikabulkan. Tetapi bila Wali Alloh mendoakan kita di Tanah Suci bukan hanya dikabulkan tetapi hasilnya akan baroqah ke anak cucu kita.

Siapapun yg menyia-nyiakan Napak tilas dgn seorang yg punya tali Langsung dgn Rasul, dia kehilangan kesempatan besar untuk Syafaat dari Rasul sewaktu hidup.

Syafaat bisa didapatkan sekarang didunia kenapa harus menunggu sampai dipadang mashar. Seperti talqin bisa sewaktu hidup, kenapa menunggu mati.

Bergegaslah berziarah dgn para Nabi dan Rasul yg terdahulu agar mereka kenal bahwa kita ada diKhalifah Orang Orang yg Bercahaya Illahi. Amien

Dimanakah Ego dari Seorang Wali Alloh?

Wali Alloh telah Menyerahkan Dirinya ke Tuan Gurunya
Seorang Wali Alloh telah menyerahkan egonya kepada Silsilahnya. Dirinya yaitu egonya telah dileburkan kepada Tuan Gurunya (Masternya). Karena egonya telah dileburkan dengan Tuan Gurunya, dia tidak mempunyai apa apa lagi. Dalam kekosongannya, dia siap menerima setiap konsekuensi dari dunia dan akhirat. Dia tidak lagi mempunyai ketakutan ataupun kesedihan. Dia menjadi maqom (vesell) yang sudah retak. Dia tidak lagi mempunyai attachment (ketergantungan dunia) ataupun aversion (penolakan dari sesuatu kejadian). Apapun takdir yang dilemparkan didepannya dia terima tampa susah payah dan dengan senyum dihatinya.

Abah Anom pernah berkata, “Aos itu sudah dikantong saya.” Maksud perkataan Abah Anom adalah egonya Ajengan Gaos sudah diberikan kepadanya. Kalaupun Abah bertanya mengenai solusi persoalan yang dihadapinya, Ajengan selalu akan bertanya balik kepada Abah apakah solusi yang menurutnya. Seorang yang mempunyai egonya, biasanya mencari nasihat dari dirinya sendiri yang diliputi nafsu dan keinginan. Tetapi, seorang tampa ego tidak lagi mempunyai pendapat didepan Tuan Gurunya (Masternya). Dia mengetahui bahwa setiap persoalan yang dihadapinya solusinya dan jawabannya ada didalam diri Tuan Gurunya. Walaupun Tuan Gurunya menanyakan sesuatu, diapun tetap tahu bahwa jawabannya akan selalu ada didalam diri Tuan Gurunya. Dan Tuan Gurunya tahu bahwa solusi dan jawabannya ada di Tuan Gurunya dari urutan silsilah sebelumnya. Dan Tuan Gurunya dari Tuan Gurunya, tahu solusi dan jawaban ada di Tuan Gurunya. Maka pendapat seterusnya naik kesilsilahnya sampai Rasul, Jibril, dan akhirnya dengan Alloh sang Penentu dari segala sesuatu.

Ego Dari Sang Wali Palsu
Seorang dengan egonya mempunyai misi didunia ini yaitu memenuhi dua hal, nafsu dan keinginannya. Nafsu datang dari fisiknya dan keinginannya datang dari pikirannya (impian dan angan-angannya). Sedangkan seorang tampa egonya mempunyai misi yang berbeda. Mereka adalah seorang yang sedang menunggu instruksiNya agar bisa melakukan instruksiNya. Mereka tidak mempunyai keinginan kecuali keinginanNya. Mereka tidak mempunyai nafsu kecuali nafsu yang sudah digariskanNya. Yang mereka lakukan kadang tidak masuk diakal. Inilah yang dialami oleh Nabi Musa kala berhadapan dengan Nabi Khaidir yang merusak perahu nelayan miskin, berkerja tanpa dibayar, dan malah membunuh seorang anak kecil.

Bila seorang ditunjuk menjadi seorang Wali Alloh oleh orang lain sementara dia masih mempunyai ego, dia adalah orang yang paling malang. Dia akan mengikuti nafsu dan keinginannya. Syaikh Abdul Qadir telah memberikan peringatan bahwa orang seperti ini akan diratakan dengan tanah oleh Sang Penguasa yang sebenarnya. Karena memang Ego memilih mati dibandingkan dilebur denganNya. Bila seorang masih dikuasai oleh Egonya, egonya akan merusak dirinya sendiri . Selama mereka masih menjadi budak pujian dan celaan, mereka hanya akan terjerumus kedalam kesesatan.

Seorang Wali Tulen Bebas Dari Egonya
Ajengan Gaos pernah berpesan yang merupakan sebuah pesan Abah Anom. Dia berkata “saya tidak lagi berdoa untuk yang diinginkan saya namun berdoa untuk supaya bisa bersyukur kepadaNya. Karena, saya tidak tahu yang terbaik untuk saya.” Seorang tampa ego mengetahui diri sejatinya. Ajengan pernah berkata, “Ana (Aku) yang sebenarnya” sambil tersenyum dan menujuk dada bawah dikirinya. Tiada Tuhan Selain Alloh adalah AKU yang sebenarnya dan itulah Aku yang berhak mempunyai KeAkuanNya dan KeinginanNya pasti terpenuhi. Seorang tampa Ego sedang mendengarkan dan melakukan keinginanNya. Dia sudah bebas dari si “aku” dan sekarang hanya mengikutiNya. Hidup seorang tampa ego adalah hanya sebuah instrumen yang bergerak dan berbicara tanpa diri tetapi dengan Hati yang diisiNya. Dia adalah seorang bebas (free ones) dan yang dibebaskan untuk memimpin dan mengajak anak-anak Adam yang lain menuju kebebasan. Kebebasan dari penderitaan didunia dan diakhirat. Kebebasan untuk berbahagia selamanya. Amen.

Seorang tanpa ego akan bergerak dan berubah rubah dalam keputusannya seperti seorang yang menerima surat dari presiden yang menentukan hari ini untuk mundur dan hari kemudian untuk menyerang. Dalam pandangan orang lain orang tersebut tidak punya pendirian dan tidak masuk akal. Memang dirinya sudah hilang dan yang dilakukan bukan dengan akal tetapi dengan Hati yang terisi olehNya.

Lihatlah Rasul yang bersembunyi syiarnya diantara keluarganya sampai suatu waktu diutus oleh Alloh untuk bersyiar secara terbuka. Lihatlah Abah Sepuh yang mengajarkan marifat secara sembunyi sembunyi dan dengan pintu tertutup sebelumnya dan suatu hari melakukannya secara terang-terangan. Lihatlah Abah Anom yang melakukan manaqibnya kebanyakan didaerah sekitar Suryalaya dan suatu hari mulai mengutus Ajengan Gaos dan para wakil talqin mengejar manaqib dikota kota besar. Ini bukan pendirian maupun akal. Inilah pergantian pola dari perintah untuk hamba-hamba yang menjadi maqom (vessel) yang telah retak dan sudah tidak punya cita-cita kecuali melaksanakan perintah Tuan Gurunya.

Bila seorang menentang keputusan seorang Tuan Guru (Master) yang seorang Wali Mursyid, bersiap-siapkan mendapatkan kemalangan. Di Hadits pernah dikatakan agar berhati-hati dengan orang beriman karena mereka melihat segala sesuatu dengan Cahaya Alloh. Mereka bukan melihat dengan mata yang memakai sinar matahari. Mereka melihat dengan mata hatinya yang memakai sinar Alloh. Bila seorang ditunjuk sebagai Wali Alloh dan ternyata bukan, kita tidak perlu menentangnya sama sekali. Bila mereka berbohong, tunggu saja. Nanti akhirnya mereka akan diratakan dengan tanah oleh Sang Penguasa. Tetapi resikonya adalah bila Andalah yang menentang seorang Wali Alloh yang tulen dan Anda berada disisi orang yang bersalah, Andalah yang akan mengalami kemalangan. Abah Anom telah mengajarkan kepada kita “jangan menyalahkan ajaran orang lain” dan “jangan membenci ulama yang sejaman.” Ini adalah perisai kita untuk melindungi dari kemalangan karena menyerang dan membenci seorang Wali Alloh apalagi seorang Wali Mursyid.

Nabi Palsu vs. Wali Palsu
Makanya Andapun tidak pernah melihat dikoran-koran orang yang mengaku-ngaku Wali Alloh dan tetap hidup untuk waktu yang lama. Sementara banyak yang mengaku Nabi tetap hidup. Ini karena, Nabi sudah ditetapkan berakhir dengan Nabi Muhammad. Jadi untuk orang-orang yang mempecayai ada Nabi baru salah sendiri dan memang tersesat. Ini dikarenakan mereka tidak mau membaca keputusan Alloh di Alqur’an. Nabi tidak bisa dipalsukan jadi sang pemalsu tidak perlu langsung dihukum didunia ini. Tetapi Wali Alloh yaitu seorang Khalifah adalah posisi dan title yang sedang berjalan didunia ini. Jadi untuk orang yang memalsukannya akan ada konsekuensi secara langsung.

Wali Palsu Masih Bersedih dan Masih Ketakutan
Seorang Wali Alloh palsu masih merasakan ketakutan dan kesedihan. Dengan memalsukannya, dia mengikuti egonya yang mempunyai keinginan dan nafsunya. Namun orang orang yang tertipu akan datang meminta bantuannya dan mereka akan melemparkan persoalan mereka seperti seorang menimpukan batu besar dikepala egonya. Dengan waktu kepala egonya akan hancur dan hancurlah diri orang tersebut. Orang datang ke Wali Alloh karena yakin solusi dan jawaban dari persoalan dari dirinya ada didalam diri Tuan Gurunya yang tidak mempunyai diri lagi. Bila mereka datang bertubi tubi dan Wali Alloh palsu masih mempunyai ego (diri), maka persoalan dan penderitaan orang-orang yang datang tersebut akan terlimpahkan (dipindahkan) kepada Wali Alloh palsu tersebut. Wali Palsu tidak akan tahan. Dia akan hancur.

Wali Tulen Akan Bersinar Sinar Bagaikan Bulan
Tetapi seorang Wali Alloh yang tulen yang tidak mempunyai ego lagi bisa menerima persoalan dan penderitaan orang lain karena dia hanyalah sebuah pipa ledeng yang hanya meneruskan persoalan tersebut ke Silsilah sampai ke Alloh. Tidak ada yang berat meneruskan sesuatu. Karena dirinya sudah Sirna dari Rasa, diapun tidak menderita dengan penderitaan orang lain. Dia bisa tenang dan bahagia dibawah sorotan CahayaNya. Dia bisa menjadi asal usul dari solusi dan jawaban persoalan dan bukan menjadi bagian dari persoalan apalagi menciptakan persoalan baru. Tuan Guru harus menjadi tuan dari dirinya sendirinya. Dia harus menguasai alam bawah sadarnya yang penuh dengan keinginan (desire). Wali Alloh masih bisa berdosa jadi mereka tetap harus waspada dan tidak lengah dari gangguan egonya.

Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah berpesan untuk berteman dengan Wali Alloh. Seorang yang suci bukan karena tidak pernah melakukan kesalahan. Seperti Nabi Khaidir yang penuh dengan kesalahan dalam pandangan Nabi Musa karena merusak perahu nelayan miskin dan membunuh seorang anak kecil. Seorang Wali Alloh suci bukan karena tidak punya kesalahan (dari pandangan manusia) tetapi karena dia tidak menyembah nafsu dan keinginannya. Namun orang orang berkuasa yang dengan egonya kadang menentang keputusan Wali Alloh seperti orang Quraish yang menentang Rasulnya.

Siapa Yang Berhak Menjadi Wali Alloh?
Orang-Orang Quraish yakin merekalah yang mempunyai keturunan orang orang mulia. Merekalah yang harus menentukan siapa Nabinya. Tetapi mereka menyembah nafsu dan keinginan mereka bukan menyembahNya.

Siapa yang bisa menang melawan keputusanNya. Di Alqur’an diceritakan dibanyak ayat menyenai setiap kali seorang hamba Alloh yang dikirim membawa pesan Alloh ada yang menentangnya. Kala mereka datang merekapun ditentang oleh orang orang yang berkuasa yang merasa mereka mempunyai keturunan yang lebih mulia, lebih perkasa, ataupun lebih terdidik. Mereka percaya bahwa merekalah yang harusnya mempunyai hak untuk menentukan siapa yang menjadi orang suci.

Namun, setiap kali mereka mencoba kebodohan ini, akhirnya harus berhadapan dengan yang Maha Mulia dan Maha Suci. Ego merekapun dihancurkan dan diratakan dengan tanah. Itulah nasib orang-orang yang mengikuti dirinya dan bukan mengikutiNya dan malah berani menentang orang-orang yang suci yang sudah bersatu denganNya. Itulah nasib orang-orang yang mengembah nafsu (physical) dan keinginan (desire) dan berani melawan keputusanNya. Mereka adalah orang-orang yang malang dan bukan orang yang perlu dibenci. Abah Anom mengajarkan kepada kita semua “Cintailah orang yang membencimu.” Cintailah mereka semua orang karena Abah Anom bersabda kepada Ajengan Gaos, “Pada Akhirnya dan Ujungnya dari semua ini adalah Cinta.” Cintalah kuncinya. Cinta sejati hanya ada dihati orang-orang bebas (free ones) merekalah yang menguasai dirinya. Mereka hanya diisi oleh Cinta dan sudah bebas dari kebencian, ketakukan, dan iri hati. Dan mereka memilih Cinta untuk kita semua. Syaikh Abdul Qadir Jailani bersabda, “Bila murid ku buruk, aku baik.” Cintailah Tuan Gurumu agar selamat dunia dan akhirat dan masuklah digerbong Silsilah VIP (Very Inspired Person). Amen.

Murid yang sedang belajar dengan Tuan Gurunya (Master, Syaikh)

Penerus, Pengikut, atau Pengganti?
Kala saya tadi pagi mau assalamulaikum, saya sempat bingung. Mau assalamulaikum sama Abah atau Ajengan. Lalu saya sadar bahwa tidak ada bedanya. Ini karena Ajengan adalah satu dengan Abah seperti Abah satu dengan Abah Sepuh sampai dengan Syekh Abdul Qadir Jailani dan sampai dengan Rasul dan seterusnya dengan Malaikat Jibril dan Alloh.

Kala Abah masih hidup, Ajengan sudah melebur dengan Abah. Mereka selalu satu pendapat. Karena pendapat Ajengan itu selalu pendapat Abah. Ajengan akan lebih mendengarkan nasehat Abah ketimbang nasehat beliau sendiri. Seperti Sayadina Ali akan lebih mendengarkan nasehat Rasul ketimbang nasehat dirinya sendiri. Inilah maksudnya Silsilah.
Jadi Ajengan bukan pengganti Abah. Itu artinya seperti President ada penggantinya. Karena president baru tidak selalu sependapat dengan president lama. Panglima baru tidak selalu setuju dengat pendapat panglima sebelumnya.

Ajengan adalah pengikut dan penerus Abah. Artinya Ajengan selalu setuju dengan pendapat dan perintah Abah sekalipun lain dengan pendapat dirinya sendiri. Karena pendapat Abah dan Wali Wali sebelumnya sudah melebur dengan pendapat Rasul. Mereka telah bersatu. Sedangkan bila seseorang masih punya diri, dia belum melebur. Ajengan sudah tidak mempunyai pendiriannya tetapi mempunyai pendirian silsilahnya. Itu bedanya orang biasa dengan pendiriannya dan Wali Mursyid dengan pendiriannya.

Mengenai Orang Yang Kehilangan Ilmunya
iblispun pernah jadi makhluk yg baik dan mulia. Pernah memimpin dan guru para malaikat. Tetapi kala Alloh memilih Adam untuk menjadi KhalifahNya, dia sombong. Dia merasa lebih tinggi dalam pendidikan, pengalaman, dan kedudukan. dia dilaknat olehNya. dia mau jadi KhalifahNya tetapi tidak ditunjukNya. Sejak itu dia mencoba menghalangi semua orang dari majelis zikirNya.

Murid Abah Anom Bukan Pembenci dan Mereka Selalu Mengikuti Tanbih
Tidak mungkin muridnya Abah Anom “menyalahkan ajaran orang lain, ikut campur urusan orang lain, memeriksa murid lain, apalagi membenci ulama sejamannya”. Itu mungkin kelakuan orang yg mungkin bekas murid Abah Anom. Itu contohnya yg tidak jadi murid, bukan murid yg jadi.

Mengenai Manaqib ke Kota-Kota Besar
Kenapa Wali Mursyid ada dikampung? Karena kebanyakan rakyat Indonesia ada dikampung. Sebagai contoh tauladan orang yang tinggal dikampung. Kenapa Wali Mursyid pergi ke Jakarta? Karena kepemimpinan para rakyat ada di Jakarta dan mereka sangat perlu petunjuk Sang Wali agar negara selamat. Kenapa pergi ke Masjid Masjid yg besar? Karena orang orang soleh datang ke Masjid dan mereka membutuhkan Pimpinan Ruh agar selamat dunia dan di akhirat. Amen.

Sabda Nabi: “Akulah kota ilmu dan Ali pintunya”.
Nabi SAW bersabda, bila tidak ada aku, tanyakan Ali. Ini karena yg ilmunya sedalam dan selengkap Rasul. Diapun datang di uji dgn ditanyakan oleh para ulama dan dia menjawab. Abah juga sdh bersabda, bila tidak ada aku, tanyakan dgn “Aos”. Bila ada pertanyaan, datanglah seperti seorang ulama, dan beliau akan menjawab. Dan bila seribu orang bertanya, beliau akan terus menjawab. Ilmunya adalah lautan tanpa tepi dan hanya ada ketenangan bagi yg berniat berlayar disana, Amen.

About Sufism and Budhism
Sufism and Budhism have many things in common. Both focus in the elimination of ego and the awakening of true self. Both focus in gaining enlightenement in seeing the Reality as good and right. To be free from illusions that causing unnecessary fear and sadness. Both teaches through masters who taught self mastery and not preachers who only preach but do not have self control. Both teaches to perpetuate love and peace to all men and women and shun away from spreading hate and harsh judgment of other believers. May I introduce my beloved Master of the Qodiriyah Nasyandiyah Order of the 38th Master, Master Gaos.

One Response to Nasehat Mursyid

  1. Jika kita tak punya pemimpin (Guru) lalu siapakah yang akan memipin umat melawan iblis dan sekutunya serta segala tiu daya, tidak logos dan ilmiah ( hukum ) bila kita tak punya pemimpin ( guru ),

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s